Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Pemikiran Teologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Wednesday, April 13, 2016 Add Comment
Pemikiran Teologi Ahlus Sunnah Wal Jamaah
Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah suatu golongan yang telah Rasulullah SAW janjikan akan selamat di antara golongan-golongan yang ada. Landasan mereka bertumpu pada ittiba'us sunnah (mengikuti as-Sunnah) dan mengikuti apa yang dibawa oleh nabi baik dalam masalah aqidah, ibadah, petunjuk, tingkah laku, akhlak dan selalu menyertai jama'ah kaum Muslimin. Ahlus Sunnah wal Jama'ah sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa mereka berpegang teguh pada Al-Qur-an dan. Dan Ahlus Sunnah disebut Salafush Shalih dan orang yang mengikuti jejak mereka. Maka Ahlus Sunnah tidak termasuk dalam semua golongan ahli bid'ah dan orang-orang yang mengikuti keinginan nafsunya, seperti  Khawarij, Qadariyah, Mu'tazilah, Murji'ah, Syiah dan lain-lainnya.

Dengan demikian, Sunnah adalah lawan kata bid'ah, sedangkan jama'ah lawan kata firqah (gologan). Mengetahui siapa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah perkara yang sangat penting dan salah satu bekal yang harus ada pada setiap muslim yang menghendaki kebenaran sehingga dalam perjalanannya di muka bumi ia berada di atas pijakan yang benar dan jalan yang lurus sesuai dengan tuntunan syariat yang hakiki yang dibawa oleh Rasulullah SAW empat belas abad yang lalu.

Pemikiran tentang hal dosa
Pemikiran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengenai dosa adalah orang yang meninggalkan kewajiban dan mengerjakan dosa yang sampai ia mati belum bertaubat, maka orang ini dihukum sama dengan orang mu’min yang mengerjakan maksiat. Orang ini apabila ia tidak diampuni Allah maka ia akan masuk neraka, tetapi tidak abadi. Ia akan lepas dari siksa neraka setelah selesai menjalani hukuman neraka, tetapi ia juga akan merasakan nikmat karena imannya. Menurut ahlussunnah bahwa apa yang diperintahkan Tuhan itu baik dan apa yang dilarangnya itu buruk. Menurut mereka tidak ada kebaikan dan tidak pula ada kejahatan yang mutlak, karena itu hak prerogratif-Nya.

Tentang Sifat – sifat Allah SWT
Pemikiran mengenai sifat-sifat Allah SWT menurut Ahlus Sunnah adalah bahwa Allah itu satu, unik, qadim dan wujud. Dia bukan substansi, bukan tubuh, bukan oksigen, tidak terbatasi oleh arah dan oleh ruang. Dia memiliki sifat-sifat seperti mengetahui, hidup, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat dan lain-lain. Prinsip-prinsip bahwa Tuhan itu unik dan pada dasarnya berbeda dari sifat-sifat makhluk dan perbedaan tersebut mutlak. Berdasarkan doktrin ini, bila suatu sifat diaplikasikan kepada Tuhan, maka sifat tersebut harus dipahami secara unik dan jangan dipahami seperti kita memahaminya terhadap makhluk. Karena doktrin inilah, Asy’ariah berpendirian bahwa kita tidak boleh menyebutkan sifat Tuhan selain daripada yang termaktub secara jelas di dalam Al-Qur’an. Sifat-sifat Tuhan berbeda dengan sifat makhluk, bukan dalam tingkatan tetapi dalam jenisnya yakni dalam segenap hakikatnya.

Al-Baqillani berpendapat bahwa apa yang disebut sifat Allah bukanlah sifat dalam arti tekstual, tetapi mengandung makna hal, sesuai dengan pendapat Abu Hasyim. Sedangkan menurut Abu Huzail menjelaskan bahwa sifat yang dimaksud adalah zat atau esensi Tuhan. Menurutnya arti “Tuhan Mengetahui” ialah Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah Tuhan sendiri. Selain itu, Harun Nasution mengemukakan bahwa sifat-sifat Tuhan, kata Al-ghazali, berbeda dari esensi Tuhan, tetapi berwujud dalam esensi itu sendiri. Uraian-uraian ini juga membawa paham banyak yang kekal, dan untuk mengatasinya kaum Asy’ariyah mengatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah Tuhan, tetapi tidak pula lain dari Tuhan. Sedangkan Hamka sebagaimana dikutip oleh Yunan Yusuf dalam membicarakan sifat-sifat Tuhan mencoba menghindari perdebatan tentang apakah sifat Tuhan itu ada dalam dzat atau berbeda di luar dzat Tuhan itu sendiri. Karena menurut Hamka, membahas sifat dan dzat manusia saja sangat sulit apalagi membahas sifat dan dzat Tuhan. Oleh sebab itu, ia lebih menitikberatkan kajiannya kepada manfaat praktis apa yang bisa ditarik dari pembicaraan Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Manfaat apa yang dapat diambil dari pendiskusian tentang Tuhan dan sifat-sifat-Nya semata-mata untuk mempertinggi kualitas iman seseorang, dan pada gilirannya akan mempertinggi pula kualitas dan kuantitas amal sholehnya.

Tentang Keadilan Allah SWT
Mengenai konsep keadilan Allah SWT. Zainuddin mengemukakan pendapat Asy’ariyah bahwa Allah SWT pencipta segala perbuatan hamba-Nya. Dia berkehendak atas terjadinya segala perbuatan makhluk-Nya baik maupun buruk. Apabila seorang hamba bermaksud akan berbuat sesuatu, maka Allah menentukan apa yang dikerjakan oleh hamba tersebut, oleh karena perbuatannya itu maka seorang hamba mempunyai kasab. Menurut Asy’ariyah, kasab itu ialah bersamaannya kemampuan dengan perbuatan. Jadi hamba hanya punya kasab, sedangkan perbuatannya sendiri diciptakan Allah SWT.

Allah menciptakan kemampuan dan kemauan yang keduanya berperan dalam berlangsungnya perbuatan, sehingga perbuatannya itu makhluk Allah. Jadi makhluk Allah itu ada yang tercipta tanpa perantara seperti batu, pohon-pohon dan sebagainya. Ada yang memakai perantara  yaitu segala makhluk yang dihasilkan kerja manusia. Karena manusia merupakan perantara maka dia bertanggung jawab dan mendapat balasan baik atau buruk. Dengan demikian, maka Allah itu bersifat adil, yaitu memberi pahala kepada seorang hamba sesuai dengan apa yang diusahakannya.

Tentang Janji dan Ancaman
Menurut Mu’tazilah, sebagaimana dikemukakan oleh Zainuddin, barangsiapa yang mati dalam keadaan kafir atau melakukan dosa besar maka orang itu akan kekal dalam neraka, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan beriman, dia pasti masuk surga untuk selama-lamanya. Kaum mu’tazilah tidak menyebut adanya kemungkinan pengampunan Allah dan syafaat di hari kiamat. Asy’ariyah tidak sepaham dengan mu’tazilah. Menurut Ahlus Sunah Asy’ariyah, tidak ada yang kekal dalam neraka, kecuali orang yang mati dalam keadaan kufur. Dan Allah berkuasa untuk mengampuni orang yang dikehendaki-Nya. Pengampunan itu masih ditambah dengan adanya syafa’at daripada Nabi dan para Rasul serta para sholihin di hari kiamat.

Lebih lanjut lagi, Zainuddin mengemukakan bahwa dasar pemikiran Asy’ariyah ialah bahwa Allah SWT itu pemilik mutlak atas semua makhluk-Nya. Dia berbuat apa saja yang dia kehendaki dan menghakimi segala sesuatu menurut kehendak-Nya. Andaikata Allah memasukkan makhluk-Nya ke dalam surga, hal itu bukanlah suatu ketidakadilan. Sebaliknya kalau Allah memasukkan semua makhluk-Nya ke dalam neraka, hal itu bukanlah suatu kedzaliman, sebab yang dinamakan dzalim itu ialah memperlakukan sesuatu yang bukan miliknya, atau meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sedangkan Allah adalah pemilik mutlak atas segala sesuatu, sehingga tidak bisa digambarkan timbulnya kedzaliman daripada-Nya. Sebaliknya soal al-wa’d wa al-wa’id, al-maturidi sepaham dengan mu’tazilah. Menurutnya, janji-janji dan ancaman-ancaman Tuhan, tak boleh tidak mesti terjadi kelak.

Tentang Melihat Dzat Allah di Akhirat
M.M. Sharif menyebutkan bahwa dalam hal melihat dzat Tuhan di akhirat ,Asy’ariyah berbeda dari paham Mu’tazilah dan para filosof dan sejalan dengan paham umat muslim ortodoks, yang menyatakan bahwa Allah itu dapat dilihat, tapi mereka tidak sepakat mengenai apakah Tuhan dapat ditunjukkan. Mereka menerima prinsip filsafat bahwa apa saja yang menempati ruang atau arah mestilah temporal, padahal Allah tidak temporal. Pengakuan ini mengakibatkan mereka dihantui kerumitan, sebab bila Tuhan tidak “meruang atau mewaktu” dan sesuatu yang dapat dilihat, maka Tuhan tidak dapat dilihat, namun konklusi ini bertentangan dengan paham mereka bahwa Tuhan dapat dilihat. Jadi untuk mengatasi kesulitan ini, mereka menyatakan bahwa suatu benda biarpun benda itu tidak ada di depan orang yang melihatnya, mungkin saja untuk dilihat. Ini alasan yang lemah dan ganjil sekali, sebab sangat bertentangan dengan segenap prinsip optika.

Disamping itu, Ahlus Sunah Maturidiah juga sependapat dengan kaum ortodoks, dan dia menegaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi mengenai hal ini harus dipahami secara harfiah. Dengan pola pikir skolastik dia mengemukakan bahwa kata dan makna ayat dan hadits yang menerangkan tentang hal ini, menunjukkan bahwa kita jangan memahaminya secara alegoris dan menafsirkan bahwa melihat Tuhan artinya “melihat tanda-tanda dan ganjaran-Nya atau mengetahui-Nya dengan hati”. Dengan demikian, Maturidi menegaskan bahwa melihat Tuhan di surga merupakan kenikmatan spiritual dan intelektual yang paling tinggi dan merupakan pahala termulia dari iman. Ini merupakan dasar aqidah yang dilandasi Al-qur’an dan sunnah serta ditopang oleh akal.

Tentang perbuatan Manusia
Menurut Zainuddin, kaum Ahlus Sunah Asy’ariyah mengatakan bahwa manusia mempunyai kemampuan yang berpengaruh atas segala perbuatannya dengan izin Allah SWT. Manusia juga mempunyai pilihan ikhtiar, tapi manusia dipaksa atas pilihannya. Kemampuan manusia tidak berpengaruh secara asli atas amal perbuatannya, hanya seperti tangan yang lumpuh. Karena itu, maka manusia tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak digariskan oleh izin dan kekuasaan Allah SWT. Dengan demikian, kaum asy'ariyah tidak mengakui adanya ikhtiar pada manusia, sesuai dengan firman Allah bahwa :"dia menciptakan apa saja yang dikehendaki termasuk yang diciptakannya dengan perantara perbuatan mereka".

Sedangkan Hamka berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam berkehendak dan berbuat. Pilihan untuk menjadi kafir atau menjadi mukmin adalah berdasarkan pilihan bebas manusia itu sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Kebebasan berkehendak dan berbuat tersebut dimungkinkan dimiliki oleh manusia, karena kepada manusia diberikan potensi akal. Dengan akal inilah manusia menimbang mana yangbaik dan mana yang buruk, mana yang mendatangkan kemudaratan dan mana yang mendatangkan kemanfaatan.

KESIMPULAN
Yang dimaksud dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam pemikiran islam adalah kaum Asy’ariah dan kamu Maturidi. Selain itu, golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah golongan yang mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah Rasulullah SAW, para sahabtnya dan para tabi'in.

Secara ringkas, Ahlussunnah Wal Jama’ah mempunyai paham mengenai kepercayaan hati, dibuktikan dalam bentuk perkataan dan amaliahnya. Perbuatan dosa besar dan sampai matinya belum bertaubat, maka diklaim sebagai mukmin yang melalukan maksiat. Hukumannya akan masuk neraka, tetapi mempunyai harapan besar masuk surga, walaupun sudah berabad-abad lamanya. Semua perbuatan Allah mengadakan / meniadakan sesuatu itu kita tidak mengetahuinya, dan yang mengetahui hanyalah Allah sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
- Nasution, Harun.(2002). Teologi Islam : Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
- Sharif, M.M.(2004). Aliran-Aliran Filsafat Islam. Nuansa Cendikia, Bandung.
- Zainuddin.(1992). Ilmu Tauhid Lengkap. Rineka Cipta, Jakarta.

Hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf

Friday, January 22, 2016 4 Comments
Hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf
Menurut Harun Nasution, hubungan di antaranya keduanya adalah terletak pada kesamaan kajian terhadap nilai yang menekankan pada kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa sosial, keadilan, tolong menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai.ilmu.dan.berpikiran.lurus.

Antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf memiliki hubungan yang berdekatan. Pengertian Ilmu Tasawuf adalah Ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-hal yang terkait dengan kebaikan dan keburukan jiwa. Tujuan Ilmu Tasawuf itu sendiri adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghias diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia.Pada dasarnya bertasawuf adalah melakukan serangkaian ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Hubungan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf lebih lanjut dapat diuraikan sebagai berikut.: Ketika mempelajari tasawuf ternyata pula bahwa Al-Qur'an dan Al-Hadist mementingkan akhlak. Al-Qur'an dan Al-Hadist menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, rasa keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu, dan berfikir lurus. Nilai-nilai serupa ini yang harus dimiliki oleh seorang muslim dan dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil.

Jadi hubungan antara Ilmu Akhlak dan Ilmu Tasawuf dalam Islam ialah bahwa akhlak merupakan pangkal tolak tasawuf, sedangkan tasawuf adalah esensi dari akhlak itu sendiri.

Tasawuf : Pengertian dan Sejarah Perkembangannya

Saturday, November 17, 2012 2 Comments
Tasawuf : Pengertian dan Sejarah Perkembangannya
Secara ethimologi, tasawwuf  berasal dari bahasa Arab yaitu  kata shuuf  yang berarti bulu. Pada waktu itu para ahli tasawwuf memakai pakaian dari bulu domba sebagai lambang merendahkan diri. Sedangkan secara terminology, para sufi dalam mendefinisikan tasawwuf itu sendiri sesuai dengan pengalaman batin yang telah mereka rasakan masing-masing. Dan karena dominannya ungkapan batin ini, maka menjadi beragamnya definisi  yang ada. Sehingga sulit mengemukakan definisi yang menyeluruh. Dari beberapa definisi para sufi, Noer Iskandar mendefinisikan bahwa tasawwuf adalah kesadaran murni (fitrah) yang mengarahkan jiwa yang benar kepada amal dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin.

Secara bahasa tasawuf diartikan sebagai Sufisme (bahasa arab: تصوف ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi[rujukan?]. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia (Wikipedia bahasa Indonesia).

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

Sejarah Perkembangan Tasawuf

Sejarah tasawuf dimulai dengan Imam Ja'far Al Shadiq ibn Muhamad Bagir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Imam Ja'far juga dianggap sebagai guru dari keempat imam Ahlulsunah yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi'i dan Ibn Hanbal.

Ucapan - ucapan Imam Ja'far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail ibn Iyadh Dzun Nun Al Mishri, Jabir ibn Hayyan dan Al Hallaj. Diantara imam mazhab di kalangan Ahlulsunah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ja'far.
Kaitan Imam Ja'far dengan tasawuf, terlihat dari silsilah tarekat, seperti Naqsyabandiyah yang berujung pada Sayyidina Abubakar Al Shidiq ataupun yang berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja'far.

Kakek buyut Imam Ja'far, dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan (meski sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Al Bashri, sufi-zahid pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zainal Abidin (Ayah Imam Ja'far) dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada doanya yang berjudul "Al Shahifah Al Sajadiyyah".
Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad k-2 H, lewat pribadi Hasan Al Bashri, Sufyan Al Tsauri, Al Harits ibn Asad Al Muhasibi, Ba Yazid Al Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan dari para ulama (ahli fiqh, hadis dll).

Praktik - praktik tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama Islam yaitu Makkah dan Madinah, jika kita lihat dari domisili tokoh-tokoh perintis yang disebutkan di atas.
Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat dikelompokan ke dalam beberapa tahap :

1.             Tahap Zuhud

            Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf. Menurut Harun Nasution, station yang terpenting bagi seorang calon sufi ialah zuhd yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi

2.             Tahap Tasawuf Falsafi (Abad ke 6 H)

Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi merupakan tokoh utama aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam aliran ini. Aliran ini kadang disebut juga dengan Irfan (Gnostisisme) karena orientasinya pada pengetahuan (ma'rifah atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.

3. Tahap Tarekat(Abad ke 7 dan seterusnya)

      Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnya, seperti tarekat Junaidiyyah yang didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H) atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan Ibn Muhammad Nuri (w. 295 H), baru pada masa-masa ini tarekat berkembang dengan pesat.
Seperti tarekat Qadiriyyah yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) dari Jilan (Wilayah Iran sekarang); Tarekat Rifa'iyyah didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas, tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi , pada mulanya didirikan di Bukhara oleh Muhammad Bahauddin Al Uwaisi Al Bukhari Naqsyabandi.

Pemikiran Teologi Khawarij

Monday, October 29, 2012 Add Comment
Pemikiran Teologi Khawarij
Khawarij secara etimologis berasal dari bahasa Arab yaitu Kharaja jamak dari kata Kharij yang berarti keluar, muncul, timbul atau memberontak. Secara Terminologis banyak pendapat yang mengartikan kelomopok khawarij, antara lain:
  1. Khawarij merupakan suatu sekte atau kelompok pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan Ali karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima Abitrase (tahkim) dalam perang shiffin (37H/648M) dengan kelompok muawiyah bin Abi Syofiyan perihal persengketaan khilafah.
  2. Khawarij merupakan kelompok atau golongan yang keluar dan tidak loyal kepada pimpinan mereka yang shah. Yaitu kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
  3. Nama Khawarij terambil dari al-Quran, 4:100, ayat itu memberikan pengertian bahwa “ keluar dari rumah untuk berjuang di jalan Allah”.  Kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata untuk berjuang di jalan Allah swt.
  4. Kaum khawarij adalah orang-orang yang memberontak etrhadap Ali pada masa terjadi arbitrase, dan mereka ini berkumpul di Harura dekat Kuffah.
Mereka sendiri (khawarij) menyebut diri mereka dengan “syurah” (pembeli), yang berarti bahwa mereka membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan duniawi. Khawarij juga disebut An-Nawashib, sebutan ini dialamatkan kepada mereka karena mereka sangat membenci bahkan mengkafirkan Ali bin Abi Thalib.

Doktrin-Doktrin Pokok Khawarij
            Doktrin-doktrin kelompok khawarij itu terbagi menjadi tiga kategori, yaitu : doktrin politik, doktrin social, dan doktrin teologi.

A. Doktrin Politik
  • Khafilah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat islam.
  • Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab. Dengan demikian setiap muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat.
  • Pasukan perang jammal yang melawan Ali  juga dianggap kafir.
  • Khalifah dipilih secara permanent selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syariat islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezaliman.
  • Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah kaum muslimin bisa hidup dalam kebanaran dengan cara saling menasehati dalam hal kebenaran.
  • Khalifah sebelum Ali adalah sah, tetapi setelah tahun dari masa kekhalifahannya, utsman dianggap telah menyeleweng.
  • Khalifah Ali adalah sah, tapi setelah arbitrse dia dianggap teklah menyeleweng.
  • Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asyari juga dianggap menyeleweng dan kafir.
B. Doktrin Teologi
  • Amar ma’ruf nahi munkar.
  • Memalingkan ayat-ayat al-quran yang tampak mutasabihat.
  • Qur’an adalah makhluk.
  • Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari tuhan.
  • Ajaran agama yang harus diketahui hanya ada dua, yakni mengetahui Allah dan Rasul-Nya. selain dua hal itu tidak wajib diketahui.
C. Doktrin Sosial
  • Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis, mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang teah dianggap kafir dengan resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.
  • Orang musyrik adalah orang yang melakukan dosa besar, tidak sepaham dengan mereka atau orang yang sepaham akan tetapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka. orang musyrik itu halal darahnya, nasib mereka bersama anak-anaknya akan kekeal di neraka.
  • Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
  • Orang islam yang berbuat dosa besar, seperti berzina dan membunuh adalah kafir dan selamanya masuk neraka.
  • Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam Negara musuh.

Ciri-ciri Kaum Khawarij

Kaum khawarij memiliki ciri-ciri dan sifat yang has, yang jarang dimiliki oleh golongan yang lainya., antara lain yaitu:
  1. Sifat-sifat kaum khawarij, yaitu kedangkalan dan tidak mendalamnya mereka tentang mendalami masalah-m`salah yang mereka hadapi, serta tidak jauhnya pandangan mereka dalam menilai hasil-hasil dan akibat dari perbuatan-perbuatan yang hendak mereka kerjakan.
  2. Mereka sangat keras dan berlebih-lebihan dalam beribadah, contohnya dari riwayat Ibnu Abbas ketika datang kepada Khalid melihat kening mereka luka-luka karena sujud mereka sangat lama, dan mereka gemar dan siap untuk beribadah.
  3. Khawarij memiliki sifat berani dan suka berperang serta menganggap rendah tentang kehidupan dunia ini, untuk mempertahankan pendapat dan prinsip yang mereka anut
  4. Khawarij memiliki sifatanarkime dan kesukaan mereka memberontak serta menimbulkan kegoncangan dan tidak mematuhi peraturan dan tata tertib.
Bukti-bukti bahwa mereka anarkis, antara lain sebagai berikut:
  1. Mereka itu memusuhi semua orang dan memaklumkan perang kesemua orang yang tidak termasuk golongan mereka.
  2. Mereka menghalalkan darah semua muslim dan harta muslim di luar golongan mereka.
  3. Mereka itu terpecah–pecah kepada golongan yang banyak jumlahnya, disatu sama lain biasa bertempur karena sebab-sebab yang remeh.
  4. Mereka suka mengkafirkan orang lain karena sebab-sebab yang sangat remeh, ataupun tanpa sebab sama sekali, sehinggaa salah seorang dari mereka pernah berkata “ kalau imam telah kafir maka kafir pula rakyatnya”
Prinsip-Prinsip Khawarij
Adapun khawarij berkelompok-kelompok dan bercabang-cabang, mereka tetap berpandangan sama dalam dua perinsip, yaitu :
1. Persamaan pandangan mengenai kepemimpinan , mereka sepakat bahwa khalifah diserahkan kepada rakyat untuk memilihnya dan tidak ada keharusan dari kabilah atau keturunnan tertentu, seperti quraish atau keturunan nabi.
2. Persamaan pandangan yang berkenaan dengan aqidah. Mereka berpendapat bahwa mengamalkan perintah-perintah agama adalah sebagian dari iman.

Aliran-Aliran Khawarij
Aliran-aliran khawarij secara keseluruhan terdapat sebanyak delapan golongan, namun hanya enam yang akan kami jelaskan, antara lain:
1.Azariqah
2. Nandat Adzariyah
3. Ibadhiyah
4. Ajaridah
5. Tsa’alibah
6. Shafariyah Ziyadiyah

Pemikiran Teologi Syiah

Monday, October 29, 2012 1 Comment
Pemikiran Teologi Syiah
A. Awal terbentuknya Syiah

Apa dan siapa Syiah itu? Syiah adalah aliran sempalan dalam Islam dan Syiah merupakan salah satu dari sekian Aliran – aliran sempalan dalam Islam. Aliran sempalan Islam yaitu aliran – aliran yang menyimpang dari ajaran islam yang di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW atau dalam bahasa agamanya Ahli Bid’ah.
Kata Syiah berasal dari bahasa arab yang artinya yaitu pengikut juga mengan dung arti pendukung atau pecinta. Atau dapat di artikan sebagai kelompok. Pada zaman Rasulullah SAW Syiah sudah ada sebelum Islam, namun dihapuskan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga pada saat itu tidak ada Syiah itu atau Syiah ini. Karena Rasulullah SAW diutus oleh Allah untuk mempersatukan umat bukan untuk membuat Syiah atau menjadikannya firqoh.
Tapi setelah Rasulullah SAW wafat, benih – benih perpecahan mulai ada, sehingga saat itu ada kelompok  - kelompok atau syiah – syiah yang mendukung seseorang tapi sifatnya politik. Misalnya sebelum Sayyidina Abu Bakar di baiat sebagai khalifah. Pada waktu itu ada satu kelompok dari orang – orang Ansor yang berusaha ingin mengangkat Saad Bin Ubadah sebagai Khalifah. Tapi dengan disepakatinya Sayyidina Abu bakar menjadi khalifah, maka bubarlah kelompok tersebut.
Begitu pula saat itu ada kelompok kecil yang berpendapat bahwa Sayyidina Ali lebih berhak menjadi seorang khalifah dengan alasan karena paling dekatnya hubungan kekeluargaan dngan Rasulullah SAW tapi dengan baiatnya Sayyidina Abu Bakar sebagai khalifah, maka selesailah masalah tersebut. Oleh karena itu dasarnya merupakan politik bukanlah akidah maka hal – hal tersebut kadang terjadi sebentar dan kadang hilang.
Jadi istilah Syiah pada saat itu tidak hanya dipakai untuk pengikut kelompok Imam Ali saja namun juga di pakai untuk setiap kelompok pengikut dari seorang yang sangat berpengaruh.
Kata Syiah sudah ada namun dalam arti sebuah bahasa namun tidak sampai dalam sebuah konteks madzhab jadi Adapun Syiah Ali dan Syiah Muawwiyah pada saat itu tetap mengikuti ajaran yang di bawa oleh Rasulullah.
Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah salah satu aliran Syiah dari sekian banyak aliran-aliran Syiah yang satu sama lain berebut menamakan aliran Syiahnya sebagai madzhab Ahlul Bait. Dan pdnganutnya mengklaim hanya dirinya saja atau golongannya yang mengikuti dan mencintai Ahlul Bait. Aliran Syiah inilah yang dianut atau diikuti oleh mayoritas (65 %) rakyat IRAN. Begitu pula sebagai aliran Syiah yang diikuti oleh orang-orang di Indonesia yang gandrung kepada Khumaini dan Syiahnya. Apabila dibanding dengan aliran-aliran Syiah yang lain, maka aliran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ini merupakan aliran Syiah yang paling sesat dan paling berbahaya bagi agama, bangsa dan negara pada saat ini. 
            Dengan menggunakan strategi yang licik yang mereka namakan Tagiyah (berdusta) yang berakibat dapat menghalalkan segala cara, aliran ini dikembangkan.Akibatnya banyak orang-orang yang beraqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tertipu dan termakan oleh propaganda mereka, sehingga keluar dari agama nenek moyangnya (Islam) dan masuk Syiah.Karena didasari oleh Ashobiyah atau kefanatikan yang mendalam, maka aliran ini cepat menjalar dan berkembang, terutama dikalangan awam Alawiyyin (keturunan nabi Muhammad) dan Muhibbin (pecinta mereka). Dapat kita lihat bagaimana mereka tanpa sopan berani dan terang-terangan mdncaci maki para sahabat, memfitnah istri-istri Rasulullah SAW, khususnya Siti Aisyah, bahkan Rasulullah sendiri tidak luput dari tuduhan mereka.

B. Peran dan Dampak Keberadaan Syiah di Indonesia

            Dalam perkembanganya Syah masuk ke Indonesia masih menjadi sebuah perdebatan dan banyak versi. Ada tiga faktor yang menyebabkan Syi'ah mudah masuk ke Indonesia. Yaitu: Pertama, kaum Muslimin terbelakang dalam pemahaman terhadap aqidah Islam yang shahîhah (benar) yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah.
            Kedua, mayoritas kaum Muslimin pada saat itu sangat jauh dari manhaj Salafush Shâlih. Mereka hanya sekedar mengenal nama yang agung ini, namun dari sisi pemahaman pengamalan dan dakwah jauh sekali dari pemahaman dan praktek Salaful Ummah (generasi terbaik umat Islam). Memang ada sebagian kaum Muslimin yang menyeru kepada al-Qur’ân dan Sunnah, tetapi menurut pemahaman masing-masing tanpa ada satu metode yang akan mengarahkan dan membawa mereka kepada pemahaman yang shahîh (benar).
            Ketiga, kebanyakan kaum Muslimin termasuk tokoh-tokoh mereka di negeri ini kurang paham atau tidak paham sama sekali tentang ajaran bermadzhab Syi'ah yang sangat berbahaya terhadap Islam dan kaum Muslimin, bahkan bagi seluruh umat manusia. Pemahaman mereka terhadap ajaran Syi'ah sebatas Syi'ah sebagai madzhab fiqh, sebagaimana madzhab-madzhab yang ada dalam Islam yang merupakan hasil ijtihad para ulama seperti Imam Syafi’i, Abu Hanîfah, Mâlik, dan Ahmad dan lain-lain. Mereka mengira perbedaan antara Syi’ah dengan madzhab yang lain hanya pada masalah khilâfiyah furû’iyyah (perbedaan kecil). Oleh karena itu, sering kita dengar, para tokoh Islam di negeri kita ini mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara kita dengan Syi'ah kecuali sekedar perbedaan furu’iyyah.
Dengan tiga sebab diatas mudahnya Syiah masuk ke dalam Islam Indonesia mereka menamakan perjuangannya yaitu berdakwah menegakkan Daulah Islam ,namun yang sebenarnya yang mereka lakukan yaitu menyebarkan ajaran Rafidhoh.
Di wilayah Madura Indonesia sering terjadi bentrok antara kelompok Aswaja dan Syiah dikarenak`n Warga NU tidak ingin ajaran Syiah terus disebarkan di wilayah Madura. Sikap emosi warga nya terhadap penolakan keras terhadap penyebaran Syiah merupakan harga mati. Permasalahan ini tidak terlepas dari ajaran tajuk Muluk yang menistakan Agama. Setelah proses keadilan ia di ganjar dengan hukuman 2 tahun penjara. Ajaran Tajul muluk ( syiah sampang madura ) tidak serta merta diberikan langsung kepada semua pengikutnya. Bagi kalangan awam ajaran-ajaran ini disampaikan secara bertahap. Jadi bagi mereka yang awam dan baru bergabung dengan kelompok Tajul bisa saja mereka akan menganggap semua tudingan ini sebagai fitnah.
Bagaimanapun juga kelompok Syiah yang telah banyak menyimpang dari ajaran Rasulullah dulunya juga mengikuti ajaran Rasulullah namun karena ada beberapa Orang yang menjadikan pengikut dari Syiah menjadi sesat maka,kuatkan Pondasi agama Islam kita dulu baru belajar ilmu yang lebih mendalam.