Sakeco 'musik tradisional Sumbawa'

Sunday, June 06, 2010
Sakeco merupakan kesenian yang banyak di gemari oleh orang sumbawa, alatnya berupa dua buah rabana dan di mainkan oleh dua orang seniman penabuh denga membawa syair berbahasa sumbawa yang di namakan lawas. Alat yang di gunakan itu terbuat dari kayu kamboja (kayu jepun) yang salah satu bagiannya di tutup dengan kulit kambing yang telah di keringkan dan di ikat dengan rotan dan kawat.Pada dasarnya sakeco ini berasal dari ratib, ratib ini berasal dari bahasa Arab yang artinya hiburan yang pada umumnya di mainkan oleh 4 orang tetapi sekarang hanya di mainkan oleh 2 orang saja dengan menggunkaan alat musiknya yang di sebut dengan rabana,serta di mainkan sambil membawakan lagu-lagu berbahasa arab yang di ambil dari
kitab HADRAH dan mengendung puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ratib awalnya masuk ke sumbawa ini di bawa oleh orang islam yang berasal dari hindia belakang yaitu bujarab dekat negeri arab yaitu mekkah, ratib ini mulai masuk pada, ratib ini berasal dari bahasa Arab yang artinya hiburan yang pada umumnya di mainkan oleh 4 orang tetapi sekarang hanya di mainkan oleh 2 orang saja.

Ratib awalnya masuk ke sumbawa ini di bawa oleh orang islam yang berasal dari hindia belakang yaitu bujarab dekat negeri arab yaitu mekkah, ratib ini mulai masuk pada zaman pemerintahan kerajaan hindu yaitu kerajaan Majapahit di mana para seniman sumbawa selalu bertolak dari tradisi lama dalam membabarkan karyanya untuk di olah dan di padukan dengan unsure seni yang datangnya belakangan.
Melalui seni inilah orang islam berhasil masuk ke daerah sumbawa dan nenyebarkan agama islam sehingga membuat kerajaan hindu runtuh. Dengan menetapnya oranbg islam yang membvawa ratib tersebut membuat ratib berkembang menjadi sakeco dengan cara di padukan dengan syair-syair yang berbahasa sumbawa yang biasa di sebut lawas.

Pada umumnya sakeco ini di bawakan pada acara pengantin, khitanan, dan upacara-upacara adat dan dahulu orang menjadikn sakeco ini sebagai mata pencaharian,tetapi sekarang hanya di gunakan sebagai hiburan saja.
Menurut bapak H.SARIRANG.H.H secara relistis perkembangan sakeco saat ini memang sangat menurun dan budaya seperti sakeco ini memang terancam punah karena adanya musik-musik modern,melihat kondisi masyarakat saat ini yang sangat mempopulerkan budaya-budaya luar di bandingkan dengan budaya mereka sendiri membuat semangat beliau untuk melakukan suatu usaha guna mengembangkan budaya tana samawa ini khususnya bidang yang di geluti kurang lebih 40 tahun ini.
Sebagai tokoh beliau akan melakukan usaha seperti memodifikasi lagu-lagu yang di ciptakan sesuai dengan perkembangan zaman,membuat isi atau cerita dalam syair itu berbeda-beda agar pendengar tidak bosan,serta akan mengadakan pentas seni yang bertema budaya-budaya sumbawa.

Awalnya beliau tidak berniat untuk mempelajari sakeco ini,karena di kampungnya banyak orang-orang yang mempelajari sekeco dan beliau hanya ikut-ikutan saja, dan lama-kelamaan beliau tertarik dengan sekeco ini karena di anggap asyik dan bagi beliau sekeco ini mempunyai keistimewaan tersendiri dengan syair-syairnya yang indah yang mengandung nasehat-nasehat.
Biasanya Beliau mendapatkan inspirasi untuk membuat syair-syair sekeco ini dari apa saja yang di lihat, ketika melihat sesuatu nantinya beliau akan merenungi sendiri dan timbullah pikirannya untuk membuat syair-syair sekeco tersebut seperti waktu beliau melihat anak muridnya sedang menghadapi ujian nasional terpikirlah oleh beliau untuk membuat syair sekeco tentang nasib anak muridnya.
Sakeco ini berbeda dengan lagu-lagu yang di bawakan oleh band-band atau bisa di sebut dengan musik modern, setiap baris sakeco memuat satu pokok bahasan,sedangkan lagu dari bait pertama sampai bait terakhir hanya memuat satu pokok bahasan, jadi jika terdapat ssepuluh baris dalam sakeco maka memuat sepuluh pokok bahasan.
Menurut beliau dengan melihat perkembangan sakeco saat ini,seharusnya kita sebagai orang darerah sumbawa dan lebih jelasnya sebagai generasi muda lebih mengembangkan lagi budaya-budaya tana samawa ini, karena apabila tidak di lestarikan maka budaya tana samawa ini akan teracam punah,bukan semakin membanggakan atau mendewa-dewakan budaya-budaya luar. Padahal sebenarnya budaya kita sperti sakeco ini sangatlah berpotensi dan memiliki nilali yang tinggi.

Maka dari itu beliu memberi kesan terhadap sakeco ini yaitu sakeco ini harus di kembangkan karena selain kesenian sakeco juga dapat di jadikan nasehat-nasehat degan lagu-lagunyadan juga merukan suatu sindiran halus untuk menuntun ke jalan yang lebih baik. Sakeco ini biasanya berisi tentang nasehat,kisah percintaan, cerita rakyat, dan lain sebagainya. Adapun adapun sebagian judul sakeco karya beliau antara lain:
ü Pariwisata
ü Geliat kemutar telu I
ü Geliat kemutar telu II
ü Jati mandiri
ü Perpisahan
ü Sabalong samalewa
ü Pela gndong yaitu saat terjadi kekacauan di ambon dan pela gandong ini sebagai pengamannya
ü Dan lain-lain

Share this :

First
2 Komentar
avatar

asyyyikkkk, gw dpt info baru ttg sakeco

Balas
avatar

Izin share tulisan, info bagus utk populerkan seni sakeco

Balas

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔